Office Life Stories

I love you in every universe.

07.43 — Pantry kantor.Karina baru saja tiba, rambutnya masih sedikit basah setelah buru-buru mandi. Dia sedang mengaduk kopi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menopang rasa kantuk yang belum hilang. Tiba-tiba, ada seseorang yang menyodorkan roti isi ke depan wajahnya.San, dengan nada datar dan hanya melirik sebentar. "Kamu belum sarapan, kan? Tadi aku beli lebih."Karina berkedip perlahan. Ia mengambil roti itu tanpa sepatah kata. Ketika San mulai melangkah pergi, Karina menarik pergelangan tangannya pelan. "Kamu... merhatiin kebiasaan aku sekarang?"San tersenyum tipis tanpa menjawab, tapi rona merah samar menghiasi wajahnya.Karina berpikir dalam hati, “Aku bakal cium anak ini. Kalau gak hari ini, ya besok. Kalau gak besok, ya nanti di ruang arsip.”09.20 — Meja kerja. Karina duduk di kursinya, pura-pura mengetik di depan layar. Namun, matanya mencuri pandang ke arah San yang sedang berbicara serius dengan kepala divisi. Nada bicaranya terdengar sopan, tangannya terlipat rapi di atas meja, ekspresinya serius penuh perhatian.Karina menggigit ujung pulpen pelan. Wajahnya tampak tenang, meski kaki di bawah meja tak bisa diam, berayun kecil tanpa sadar. “Dia sopan banget... penampilannya juga rapi banget... kayak murid kesayangan dosen. Nanti aku bakal hancurin image-nya itu," batinnya sambil tertawa jahat.14.00 — Karina membuka WhatsApp.Giselle : Jangan terlalu berisik nanti di ruang arsip, Sayang, Lantainya tipis.Ningning : Seriusan kamu mau ngajak San ke ruang arsip, Beb?Karina : 1000% serius, ngajak dia masuk ke hidup aku. Tapi lewat ruang arsip dulu, hehe.Winter : Udah ga tertolong lagi ini anak …16.43 — Ruang arsip. Karina sudah siap siaga di dalam ruangan itu, duduk di meja panjang sambil berpura-pura serius menulis sesuatu. Tetapi tangannya terasa dingin dan jantungnya berdebar tak karuan.Akhirnya pintu terbuka. San melangkah masuk dengan wajah polos tanpa menyadari apa yang akan terjadi. "Karina, tadi kamu bilang ada file penting yang harus aku periksa, ya?" tanyanya ringan. Karina berdiri perlahan, menutup pintu di belakang San dengan hati-hati sebelum menatapnya sambil berjalan maju satu langkah lebih dekat. "File-nya memang penting," ucapnya dengan nada lembut sambil tersenyum kecil, "tapi ada yang lebih penting..." Ia berhenti sesaat, mendekatkan wajahnya sedikit dan berbisik nyaris tak terdengar, "...kamu."Karina mencium San dengan penuh antusias, seolah tak memberi kesempatan untuk pria di hadapannya itu berpikir. Perlahan tapi pasti, tangan Karina mulai menjelajahi tubuh San, menyusuri setiap sisi dengan hati-hati. San sempat mencoba menahan diri, namun tubuhnya sudah lebih dulu menyerah. Tanpa sadar, tangannya menarik Karina semakin dekat. Nafas mereka semakin membaur, diselingi dengan desahan pelan yang mulai terdengar.Di antara sela-sela ciuman, Karina berbisik dengan nada menggoda, "Aku suka kamu begini... diam, nurut, tapi tetap membara."San berusaha merespons di tengah kebingungan, "Aku... gak bisa berpikir kalau kamu tiba-tiba seperti ini..."Karina menjawab sambil tersenyum, "Seperti yang kuharapkan. Aku gak mau kamu terlalu banyak berpikir."Tiba-tiba langkah sepatu terdengar melewati lorong di luar. Dengan sigap, Karina menutup mulut San menggunakan tangannya, menampilkan senyum kecil yang misterius. Mata mereka saling bertemu, menyalurkan tegangan yang seakan membuat jantung berdetak lebih cepat. Begitu langkah itu menjauh dan situasi kembali tenang, Karina perlahan menurunkan tangannya.Lampu remang-remang, deru lembut AC mengisi ruangan, namun yang terdengar paling nyata adalah nafas mereka yang tak beraturan, saling berpadu.San bersandar di dinding. Karina berdiri di hadapannya, begitu dekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Tangan San masih melingkari pinggang Karina, tapi ada keraguan dalam gerakannya, seolah masih menahan diri.Karina mengatur napas berat sebelum berbicara. "Kenapa kamu masih menahan diri? Takut jatuh lebih dalam?"San menjawab dengan suara seraknya, lebih seperti bisikan. "Aku sudah jatuh… sejak tadi pagi."Karina tersenyum menggoda, mendekatkan wajahnya lagi. “Kalau begitu, jangan tanggung-tanggung. Aku ingin kamu jatuh sepenuhnya.”Perlahan, tangan Karina bergerak turun dari dasi ke kancing kemeja San yang sudah tidak beraturan. Dia membukanya satu per satu dengan gerakan santai, menikmati ekspresi San yang mulai kehilangan kendali. Wajah San berubah—pipinya memerah, sementara matanya sudah kabur oleh gelombang hasrat yang tak tertahankan.Karina mengecup leher San perlahan yang kemudian menjalar naik ke rahang hingga akhirnya mencapai bibirnya. Ciuman itu dalam, penuh gairah dan mendominasi—San mencoba membalas, tetapi Karina selalu selangkah lebih unggul, tangannya mulai menyusup ke balik kemeja San, menikmati tubuhnya yang bergetar di bawah kendalinya, meraba garis-garis ototnya dengan penuh percaya diri.San mengeluarkan keluhan pelan, tangannya akhirnya bergerak, menarik Karina lebih dekat seolah tidak ingin ada celah di antara mereka. Bibir mereka bertaut dengan intensitas penuh, nafas mereka semakin tersengal.Di sela ciuman itu, Karina berbisik, “Kamu gemetar…”Dengan mata tertutup, San membalas dengan suaranya yang serak, "Aku… gak kuat kalau kamu terus seperti ini."Tatapan Karina berubah liar, seakan mendapatkan apa yang ia inginkan sejak awal. "Bagus. Aku ingin kamu menyerah. Sekali ini saja, menyerah kepadaku."Karina mendorong San dengan lembut ke meja arsip rendah di belakang mereka. Ia mendudukkan diri di pangkuan San tanpa melepaskan tatapannya sedikit pun. Bibirnya dekat di telinga San saat ia berbisik pelan, “Kamu sempurna untuk diduduki. Untuk ditaklukkan. Tapi aku masih belum puas.”Ciumannya kembali menghujani San, bahkan lebih panas, lebih dalam. Kali ini, San mulai membalikkan keadaan. Tangannya merespons gerakan Karina, dia meremas pinggangnya, menarik rambutnya sedikit, dan membalas melumat bibir Karina dengan intensitas yang cukup membuat wanita itu terkejut sejenak.Dengan napas berat yang masih terengah-engah, San berbicara perlahan tapi tegas, "Kalau kamu bermain dengan api... kamu juga harus siap untuk terbakar."Alih-alih mundur, Karina tersenyum lebar. Tatapan matanya semakin kuat, seolah menerima tantangan itu tanpa keraguan sedikit pun, “Aku ingin terbakar... tapi aku tidak mau terbakar sendirian.”Dan mereka kembali menyatu dalam hiruk-pikuk emosi yang membakar suasana ruangan. Ruang arsip menjadi saksi gesekan tubuh, desahan tertahan, dan hasrat yang tak cocok dengan tempat itu—dan justru karena ketidaksesuaian itulah semuanya terasa lebih memabukkan. Mereka lupa waktu. Lupa tempat.Hingga tiba-tiba… Terdengar bunyi gagang pintu sedang diputar dari luar. Seseorang di luar terdengar bingung. "Kenapa ruangan ini terkunci? Ada orang di dalam?"Keduanya langsung saling berpandangan dengan ekspresi panik; napas mereka masih belum teratur, rambut berantakan, pakaian kusut—terlihat jelas apa yang baru saja terjadi. Tapi alih-alih langsung berdiri atau membereskan diri, Karina tetap bertahan di pangkuan San sambil menatapnya seolah menyusun strategi. Wajahnya merah, tapi bibirnya mengangkat senyum kecil penuh arti.Ketukan ringan terdengar di pintu. Seseorang dari luar berbicara, "Pak? Bu? Ada yang di dalam?"Di dalam ruangan, San langsung tegang. Wajahnya memerah, sementara kedua tangannya masih melingkar di pinggang Karina yang duduk nyaman di pangkuannya. Bibirnya tampak bengkak, dan jejak merah menghiasi lehernya seperti cap yang tak bisa disembunyikan.Namun, Karina terlihat tenang, seolah situasi ini sama sekali tak mengusiknya. Ia mendekatkan wajah ke telinga San, berbicara dengan bisikan pelan yang dibumbui tawa kecil. "Kalau kita diam saja… mereka bakal mengira ruangan ini kosong, kan?"San menelan ludah, suaranya terdengar gemetar saat menjawab, "Kalau kita diam... kamu juga harus berhenti bergerak." Tapi bukannya menurut, Karina justru mempermainkan situasi. Ia menggeser posisinya lebih dekat ke San, bergerak sedikit saja ke atas, dan San mengerang saat Karina menggesekkan tubuhnya pada area sensitifnya, menciptakan tekanan yang memaksa San menahan napas berat. Sentuhannya naik perlahan ke dada San, jari-jarinya sibuk mengutak-atik kancing terakhir di bajunya yang masih tertutup. Karina berbicara lagi, nada suaranya rendah dan tajam, "Aku nggak bisa diam... soalnya kamu menggoda banget sekarang."Ketukan di pintu terdengar untuk kedua kalinya, lebih keras. Namun setelah itu, senyap. Langkah kaki terdengar menjauh perlahan. Begitu suara benar-benar hilang, Karina tak menunggu lebih lama. Ia meraih wajah San sebelum menariknya dalam ciuman penuh gairah. Awalnya San tampak ingin menolak, tapi cengkeraman Karina pada rahangnya terlalu kuat untuk dihindari. Pandangan mereka bertaut erat, seakan tidak ada ruang untuk mundur. Karina berbicara dengan suara tegas, "Jangan pikirkan apapun. Fokus aja sama rasanya."Ciumannya kali ini terasa liar dan tak terkendali—dalam dan penuh hasrat yang mengguncang. Jemari Karina dengan cekatan membuka kemeja San sepenuhnya, membelai dada dan perutnya seperti mencari sesuatu yang ia sukai. Napas San semakin berat, berusaha keras menahan suara yang tidak ingin lolos dari bibirnya. Namun tubuhnya sudah menyerah lebih dulu terhadap segala godaan itu. San akhirnya mengambil langkah balasan, tangannya melingkar ke pinggang Karina, naik ke punggung sebelum turun kembali dengan tekanan yang membuat Karina mengeluarkan suara lembut tertahan. Dengan napas terengah, “Jangan salahkan aku, Karina," ucap San serius.Karina hanya tersenyum lebar, rambutnya agak kusut, bibirnya tampak berkilau karena ciuman tadi. "Akhirnya... anak baik mulai menunjukkan warnanya," gumamnya dengan nada menggoda.Mereka tenggelam lagi dalam ciuman yang semakin lama semakin intens. Kali ini San mengambil kendali. Ia membalik situasi dengan mendorong lembut Karina terlentang di atas meja, posisinya kini dominan. Tangannya perlahan membuka kancing kemeja Karina. Saat kemeja itu terbuka, San mengambil waktu beberapa menit untuk mengagumi kesempurnaan tubuh Karina, menyeret jari-jarinya perlahan dari perut mulusnya dan naik di antara payudaranya yang masih terbalut oleh bra hitam. Karina tampak sangat sensitif terhadap sentuhan di sana, menggigil di bawahnya, getarannya membawa San kembali ke situasi di depannya. San tersenyum padanya sebelum kepalanya menunduk, bibirnya turun ke bahu Karina, meninggalkan ciuman kecil lalu naik ke lehernya, membuat Karina menggeliat dan melingkarkan kakinya di pinggang San dengan erat.Suara mereka mulai memenuhi ruangan kecil itu—napas berat yang tertahan, gesekan lembut tubuh mereka, dan desah pelan yang sulit dikontrol. Ruang arsip yang berfungsi sebagai tempat menyimpan dokumen lama; kini berubah menjadi kawasan panas bagi dua jiwa yang kehilangan kendali satu sama lain.Karina mencakar punggung San seraya berbisik di dekat telinganya, "Aku mau kamu melupakan semuanya sekarang… kecuali aku."San menjawab dengan suara rendah dan serak, "Kamu sudah ada dalam pikiranku… bahkan sebelum semua ini dimulai."Sentuhan demi sentuhan makin dalam, sekaligus semakin sulit dilepaskan. Suasana ruangan memanas drastis, setiap momen terasa menggantung di udara. Kali ini… tak ada hal apapun yang mampu menghentikan mereka lagi.

Langit senja menggantung redup di balik kaca jendela ruang kantor. Karina menarik napas panjang sebelum menurunkan map di atas meja kerja. Suasana sekitar begitu sepi, hanya deru lembut dari pendingin ruangan dan suara detak jantungnya yang terdengar terlalu keras. Mungkin itu karena San baru saja melewati pintu ruangannya. Untuk kesekian kalinya.Dia. Putra sang pemilik perusahaan tempat Karina bekerja. Sosok yang seakan terlalu sempurna untuk dunia nyata ini—tinggi semampai, penuh ketenangan, dengan rupa menawan seperti ukiran dewa. Gestur jalannya santai namun penuh keyakinan. Tutur katanya sopan namun mampu mengguncang hati. Dan senyumnya? Ah, senyum itu memaksa Karina terpejam sesaat, seperti seorang remaja bodoh.Padahal, ia bukan lagi gadis muda yang naif. Dia perempuan dewasa yang punya ambisi dan juga masa lalu. Namun ia tak pernah menyangka dirinya bisa tenggelam sejauh ini.Map di hadapannya kini bagai benda asing, ia tak bisa fokus. Pikirannya terus menerawang pada sosok San dalam balutan kemeja putih yang membalut tubuhnya dengan sempurna—lengan kemejanya tergulung hingga siku, memperlihatkan pembuluh darah dan pergelangan yang menggoda. Leher jenjang, jakun yang naik turun perlahan saat ia menelan, detail kecil yang begitu menghanyutkan.Dan suara itu.“Karina-ssi, kamu kerja terlalu keras. Jangan lupa makan.”Nada lembut namun dalam itu terus terngiang dalam memorinya, padahal sudah tiga hari yang lalu. Meski begitu, rasanya begitu nyata, seperti bisikan hangat di telinganya.Bahkan semalam ia bermimpi tentang pria itu—San memeluknya dari belakang dan mencium bahunya di balik kemeja, membuat segalanya terasa begitu intim dan mendesak. Dalam mimpinya, tangan San menyusup pelan di balik rok span yang ia kenakan, penuh penghayatan seperti seseorang yang sedang menyentuh dosa untuk pertama kalinya.Karina merapatkan bibirnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasan, meski gemetar mulai menjalar sampai ke lututnya. Tangannya bergerak perlahan di bawah meja, merosot menuju pahanya sendiri tanpa ia sadari. Ini bukan sekadar kekaguman biasa lagi, ini adalah rasa rindu dan frustrasi yang sudah terlalu dalam, ini adalah hasrat yang tertahan. Dan Karina tahu dirinya sudah kelewat batas.Ia juga tahu betul bahwa San mungkin tak akan pernah melihatnya seperti di dalam fantasinya itu. Pria itu terlalu sopan, terlalu profesional. Terlalu... sempurna.Justru itulah yang membuat Karina semakin gila—ada dorongan nakal yang muncul. Ia ingin melihat sosok tenang San lepas kendali. Ia ingin mendengar suara beratnya mendesah di telinganya, bukan karena basa-basi kantor—tapi karena dia menginginkan dirinya dengan cara yang liar dan penuh gairah.Namun, semua fantasi liar Karina—terganggu, ketika suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu ruangannya. Tok-tok.“Karina-ssi?” Itulah suara San. Suara yang kali ini benar-benar nyata dan tidak berasal dari imajinasinya.Ia tertegun sejenak sebelum buru-buru merapikan diri—membetulkan kerah blus yang sedikit terbuka, sembari berusaha menguasai napasnya yang terasa tercekat di tenggorokan.“Masuk,” jawabnya seraya memaksakan nada setenang mungkin, meski detak jantungnya seperti sedang dipukul dari dalam.Pintu perlahan berayun terbuka, memperlihatkan San berdiri di ambangnya, dengan senyuman lembut yang menenangkan dan sorot mata penuh keteduhan. Langit sore tampak pudar dibanding cahaya yang ia bawa. Lalu itu terjadi—tatapannya melirik sekilas ke belahan dada Karina.Sepintas saja, durasinya hanya sesaat. Tapi Karina melihatnya. Dan itu cukup untuk membuatnya semakin gila.***Ruangan itu sunyi, hanya terdengar samar suara napas yang perlahan mengisi ruangan. San menutup pintu dengan hati-hati, lalu berbalik, tubuhnya kini menghadap Karina."Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan langsung," katanya sambil melangkah mendekat.Karina berusaha untuk tetap tenang, tapi keberadaan San yang terlalu dekat membuat konsentrasinya goyah. Jarak itu cukup untuk membuatnya sejenak melupakan bagaimana caranya bernapas."Apa itu?" tanyanya dengan suara bergetar. Tatapannya tanpa sadar jatuh ke arah kancing kemeja pria itu yang sedikit terbuka di bagian atas. Pemandangan kulit bersih dan hangat San membuat pikirannya kalut."Ayah menyuruhku menangani klien luar. Sebuah proyek besar," ujar San.Karina mengangguk pelan, mencoba memproses informasi itu. "Lalu?"Tanpa peringatan, San bergerak lebih dekat lagi. Terlalu dekat, hingga jarak di antara mereka hampir tak ada. “Itu artinya... aku mungkin akan sering keluar negeri.”Tatapan San pada Karina tampak sendu sebelum melanjutkan, “Karina… terima kasih. Tanpa bantuanmu, aku mungkin tidak akan berada di tahap ini.”Karina hanya mengangguk pelan. Tak tau harus menjawab apa."Kita mungkin akan jarang bertemu, jadi… apa ada sesuatu yang kau mau? Aku akan membelikannya untukmu sebagai balasannya. Yang mahal juga tak masalah." Nada suaranya berubah menjadi rendah, hangat, dengan sentuhan godaan yang lekat di setiap kata.Dan saat itulah, Karina merasakan sesuatu di dalam dirinya meledak. Perasaan yang ia pendam terlalu lama kini memuncak. Sudah cukup. Ia tak mau lagi berpura-pura atau terikat oleh aturan yang mengekangnya. "Aku tidak bisa terus begini," bisiknya nyaris putus asa.San memandangnya, alisnya terangkat sedikit. "Maksudmu?"Dengan langkah kecil, Karina mendekati San hingga nyaris tak ada lagi jarak di antara mereka. Ia mengangkat jemarinya, menyentuh dada pria itu perlahan, merasakan tekstur lembut kemejanya di bawah jemarinya. "Aku... selalu memikirkanmu," ucapnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.Entah dari mana keberanian itu muncul, tapi saat ini ia tak mampu menghentikan dirinya sendiri. Dalam diam, San menatapnya. Tapi jelas terlihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat, ia sedang mencoba mengendalikan diri.Dengan ujung jarinya, Karina mengikuti garis kancing kemeja San. "Kalau kamu harus pergi karena proyek besar itu... izinkan aku...," matanya menatap langsung ke arah wajah San. "...merasakanmu sekali saja."Sebelum dugaan apapun melintas di pikiran San, Karina menarik wajahnya lebih dekat dan mencium bibirnya dengan canggung, gemetar—campuran rasa takut dan hasrat yang terpendam begitu lama. San membeku selama sepersekian detik, namun hanya sesaat sebelum tubuhnya memberi jawaban.Ketika Karina hendak mundur karena malu pada tindakannya sendiri, tangan San yang kuat menahan pinggangnya erat, menarik tubuhnya rapat ke dada bidangnya.Ia membalas ciuman itu—dalam dan intens. Bibir mereka saling menyatu; hangat, perlahan tapi penuh gairah. Lidah hangat San menjelajah, menghisap pelan bibir bawah Karina seolah dia tahu wanita itu sudah gila karena dirinya.Sebuah erangan kecil terlepas dari bibirnya tanpa ia sadari. "San..." Nama itu keluar dari mulut Karina.San merespons dengan bibirnya yang mulai menyusuri leher Karina—gerakan lambat, namun membakar seluruh saraf di tubuh wanita itu."Aku juga sering memikirkan ini," bisik San, suara beratnya menggema begitu dekat di kulit Karina. "Setiap malam... aku memikirkanmu."Karina menggeliat di pelukannya. Sensasi panas mengalir seperti api di setiap inci tubuhnya, sementara kakinya gemetar dan kesadarannya mulai melemah.Ketika jemari San mulai membuka satu persatu kancing blus Karina dengan perlahan—seolah memberi cukup waktu baginya untuk menolak—apa yang dilakukan Karina merupakan kebalikannya; ia menganggukkan kepala sebagai tanda menyerah dan pasrah.Kini Karina terbaring di sofa panjang di sudut ruangan, napasnya masih terengah. Kancing blusnya telah terbuka separuh, menampakkan kulitnya yang mulai memerah karena ciuman San yang tak kenal ampun.Pria itu menatapnya sejenak. Mata gelapnya menyapu seluruh tubuh Karina. Tidak tergesa. Tidak serakah. Tapi cukup untuk membuat perut Karina berkontraksi seolah San sedang menghafal setiap inci tubuhnya.“Aku bisa berhenti kalau kamu mau,” gumam San, suaranya dalam dan serak.Karina menggeleng. “Jangan. Sentuh aku, San. Aku... sudah terlalu lama menahan ini.”Itu satu-satunya izin yang dia butuhkan.San menunduk dan mencium bahu Karina yang terbuka, menciptakan jejak basah yang membuat wanita itu mendesah pelan. Jemarinya lincah menyibak sisa kancing, membuka blus itu sepenuhnya. Bra renda hitam Karina kini terbuka di hadapannya.“Indah sekali,” gumamnya, sebelum menunduk dan menyesap salah satu puncak payudara Karina di atas bra.Karina mengerang. Tangannya mencengkeram rambut San, tubuhnya melengkung otomatis menjemput lebih banyak sentuhan itu.San membuka bra itu perlahan, mengusap puncak dada Karina dengan ibu jari, lalu menjilatnya dengan lidah yang panas dan basah. Gerakannya penuh pengendalian, tapi setiap sentuhan mengirimkan aliran listrik langsung ke pusat kenikmatan Karina.“Ah...” desah Karina, kedua pahanya mulai saling bergesek. Tubuhnya sudah terlalu siap.San memperhatikan reaksi itu dan tersenyum miring, lalu mulai turun, mencium perutnya, membuka kancing rok. Dengan tenang, dia melucuti pakaian Karina satu per satu, hingga wanita itu hanya tinggal berbalut pakaian dalam tipis yang nyaris tak menutupi apa pun.Dan dia tetap menatap Karina. “Boleh aku mencicipimu?” tanyanya.Karina hanya mampu mengangguk, pipinya merah, tubuhnya sudah menjerit minta disentuh.San membungkuk dan mencium bagian terdalam tubuh Karina dari atas kain tipis itu, menjilatnya perlahan—membuat Karina melengkung dan menutup mulut agar tidak mengerang terlalu keras.Tapi dia tidak bisa bertahan. Saat San menyibak kain terakhir itu dan menyentuhnya dengan lidahnya langsung, tubuh Karina bergetar. “Oh... S-San... Jangan... hentikan... atau—”Terlambat.Tubuhnya meledak dalam gelombang pertama kenikmatan. Punggungnya melengkung, tangan meremas bantal sofa, matanya kosong menatap langit-langit sambil tubuhnya bergetar pelan.San tidak berhenti sampai Karina benar-benar jatuh lemas. Baru setelah itu, dia berdiri—menarik dasinya, membuka kemejanya, dan menatap Karina dengan pandangan yang liar.“Sekarang giliranku, hm?” katanya.San berdiri di hadapan Karina, tubuh bagian atasnya telanjang, kulitnya berkilau samar oleh cahaya lampu kuning di sudut ruangan. Bahunya bidang, perutnya kencang. Karina menjulurkan tangan, menyentuh perut San perlahan, turun sampai jemarinya menyentuh garis pinggang celana dalam pria itu.San menghela napas panjang.“Aku ingin lihat kamu juga,” bisik Karina.San hanya tersenyum tipis, lalu menarik sisa kain itu ke bawah. Melepasnya. Membebaskan dirinya seutuhnya di hadapan Karina.Wanita itu terdiam. Menelan ludah. Napasnya tertahan.San… besar. Tegang. Siap.“Takut?” tanya San lembut.Karina menggeleng. “Tidak. Aku... hanya belum pernah menginginkan seseorang sekuat ini.”Tubuh San yang kekar segera menyusul, menindih Karina sepenuhnya. Punggungnya menegangkan otot-otot saat ia menurunkan seluruh berat tubuhnya di atas wanita itu, membuat Karina terengah dalam kejutan nikmat. Hidung mereka bersentuhan.“Kita lakukan ini pelan-pelan,” bisiknya. “Aku mau kamu merasakan semuanya.”Tangan San menyusup ke paha Karina, membuka kakinya perlahan. Jemarinya menjelajahi lipatan panas di antara sana, menelusuri dengan gerakan sabar tapi mematikan. Karina mencengkeram bahu San, tubuhnya melengkung lagi.“San, aku nggak bisa nunggu lagi…” gumamnya.San mencium keningnya. “Pegang aku.”Karina meraih bagian paling keras dari tubuh pria itu, memandunya perlahan ke arah dirinya. Dan saat ujungnya menyentuh bagian terdalam Karina, keduanya menarik napas bersamaan.San mendorong masuk perlahan.Karina menggigit bibir, desahan tertahan. Rasanya penuh. Padat. Hangat.Tubuh mereka bersatu, menyatu, mengisi celah-celah yang selama ini kosong.San menatap Karina dalam-dalam. Wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Tidak ada kata-kata. Hanya napas. Hanya desah. Hanya tubuh yang saling mencari.Gerakan San ritmis, sabar. Setiap tarikan dan dorongannya seperti gelombang, mengaduk emosi dan hasrat Karina hingga semuanya jadi satu—nikmat dan cinta, dosa dan ketagihan.Karina mencakar punggung San ketika ritmenya bertambah cepat. “Faster… please…” bisiknya nyaris menangis.Dan San memenuhi permintaannya.Tubuh Karina berguncang seirama gerakan pria itu. Suara kulit yang bertemu kulit mengisi ruangan. Sofa itu nyaris tak cukup untuk menampung guncangan mereka. Tapi mereka tidak peduli.Karina merasakan sesuatu meledak dari dalam. Seperti badai yang ditahan terlalu lama. Dia memanggil nama San di antara desahan panjang, tubuhnya melemas. Matanya berair. Bukan karena sakit. Tapi karena terlalu nikmat.San terus bergerak. Sampai akhirnya tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram keras sisi sofa, dan dengan satu desahan tertahan—dia melepas semuanya, dalam, penuh, ke dalam tubuh Karina.Mereka terdiam. Nafas memburu. Keringat menetes. Lalu, San merebahkan tubuhnya di samping Karina, menariknya ke dalam pelukannya.Masih tanpa kata. Tapi mereka tahu, malam ini telah mengubah segalanya.***Cahaya pagi menyelinap malu-malu lewat tirai jendela kantor. Ruangan itu masih sunyi, tapi aroma tubuh dan sisa-sisa kenikmatan malam tadi masih menggantung di udara. Lembut, basah, hangat.Karina terbangun lebih dulu. Kepalanya bersandar di dada San yang telanjang. Napas pria itu stabil, matanya terpejam. Tapi lengan kekarnya tetap melingkari pinggang Karina, seolah tubuh mereka memang diciptakan untuk saling menjaga.Dia menggerakkan jemarinya, menyusuri garis rahang San, lalu turun ke dada yang naik-turun perlahan. Di sanalah dia bersandar semalam. Di sanalah dia menangis pelan saat tubuhnya diliputi gelombang orgasme yang membutakannya.Karina menatap wajah itu. Terlalu tampan. Terlalu… tak mungkin dimiliki.Namun semalam, pria itu miliknya. Sepenuhnya.Dan saat dia menyentuhkan bibirnya lembut ke dada San, pria itu membuka mata. Masih setengah sadar, tapi matanya langsung menatap Karina. Dalam. Penuh rasa."Pagi," gumamnya serak."Maaf aku membangunkanmu," bisik Karina, tapi dia tetap mengecup leher San.San tersenyum tipis dan menarik Karina naik, hingga wajah mereka sejajar. Dia mencium dahi Karina, lalu bibirnya, lama, dalam, dengan rasa yang tak terburu.Tapi Karina, yang semalaman memendam sisa gairah, tak bisa menahan. Tubuhnya kembali bergairah hanya dengan sentuhan kecil itu. Dia duduk di atas perut San, telanjang, rambutnya kusut jatuh ke bahu.San menatapnya dari bawah. "Masih mau… pagi-pagi begini?"Karina menjawab dengan menggoyangkan pinggulnya perlahan. Dia bisa merasakan San kembali mengeras di bawahnya."Kamu yang buat aku ketagihan," katanya sambil menunduk, mencium bibir pria itu, lalu turun—ke rahang, ke leher, lalu lebih rendah. Kali ini, dia ingin membalas. Ingin merasakan bagaimana tubuh San gemetar di bawah kendalinya.Karina mengecup dadanya, lalu turun ke perutnya, lalu ke bagian paling sensitif—yang kini berdiri sempurna. Dengan satu gerakan perlahan, dia menyentuh, mencium, menjilat, dan akhirnya menelan pria itu ke dalam mulutnya.San mengerang, tangan meremas seprai sofa, tubuhnya menegang ketika lidah Karina bermain dengan ritme terlatih dan lembut."Karina…" desahnya. "Kamu… astaga..."Karina menatap ke atas, bibirnya melengkung saat melihat ekspresi itu. Dia melakukannya perlahan, memuaskan, hingga tubuh San nyaris kehilangan kendali.Tapi sebelum pria itu lepas, Karina naik lagi, membimbing tubuhnya ke dalam tubuhnya—pelan, panas, basah, dalam.Kali ini, dia yang mengatur ritme. Pelan, dalam, menyiksa.San mencengkeram pinggul Karina, menatap ke atas dengan mata separuh tertutup."You're so beautiful like this…" bisiknya, napasnya berat.Tubuh mereka bergerak seirama. Suara desahan dan kulit yang bertemu kembali mengisi ruangan. Tak ada batas. Tak ada jeda. Mereka saling mencari. Lagi. Dan lagi.Ketika puncaknya datang bersama—Karina menjerit kecil, San mengerang pelan—mereka berpelukan erat, seolah dunia hanya milik mereka berdua.Dan untuk sesaat, tidak ada pekerjaan. Tidak ada status. Hanya dua orang yang menyalurkan cinta dan ketagihan lewat tubuh mereka.***San berdiri di depan jendela kaca, tubuhnya hanya dibalut celana panjang hitam, rambutnya berantakan, dan sebatang rokok terselip di jemari. Asapnya melayang pelan, seolah waktu ikut melambat.

Karina duduk di sofa, hanya berselimutkan kemeja pria itu. Tubuhnya masih hangat, paha dalamnya masih berdenyut halus akibat babak pagi yang baru saja berlalu. Tapi yang membuat napasnya terasa sesak… adalah tatapan kosong San ke luar jendela.“Kamu nyesel, ya?” tanya Karina akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.San tidak langsung menjawab. Dia mengisap rokok itu sekali, lalu membuang napas perlahan."Karina..." Dia berbalik, menatapnya. Mata yang biasanya hangat kini tajam dan gelap.“Aku bukan pria baik. Dan semalam… pagi ini… semuanya...” Dia mengusap wajahnya kasar. “Sial. Aku seharusnya nggak boleh begini sama kamu.”Karina berdiri pelan, menghampirinya, lalu memeluk tubuh hangat itu dari belakang.“Kenapa? Karena kamu anak bos? Karena aku cuma sekretaris rendahan?”San menarik tangan Karina, membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Tatapan itu membara, tapi kali ini bukan hanya karena hasrat. Ada kegelisahan. Ada rasa bersalah.San akhirnya menggeleng pelan, menunduk, suaranya nyaris patah. “Bukan...” gumamnya. “Aku cinta kamu, Karina... dan harusnya aku menahan diriku. Harusnya aku nggak egois. Harusnya aku nggak biarin semua ini terjadi. Aku malah merusak kamu, Karina.”Karina menatapnya, dadanya sesak oleh emosi yang tak bisa lagi ditahan. Ia menggenggam tangan San yang masih gemetar."Kamu nggak egois," katanya lembut, tapi pasti. "Aku... aku baik-baik saja," lanjut Karina, mendekat. "Kamu nggak merusak aku. Justru, kamu buat aku merasa hidup. Kamu buat aku tahu artinya dicintai, walau sebentar... walau rumit."San menahan napasnya. Seolah kata-kata itu menusuk dan menyembuhkan di saat bersamaan.“Aku nggak tahu proyek ini nantinya akan membawaku ke mana…” gumamnya.Karina menggeleng, menyentuh dadanya yang berdebar. “Kemanapun kamu pergi, aku akan nunggu kamu pulang,” bisiknya. “Karena aku juga cinta kamu, San. Dan aku nggak akan berhenti mencintai kamu...”San menarik Karina ke dalam pelukannya, mencium bibirnya lembut. Untuk pertama kalinya, San memejamkan mata. Bukan karena lelah. Tapi karena hatinya yang selama ini keras, mulai luluh oleh keberanian seorang wanita—yang tak pernah menyerah padanya.

Di kantor pusat sebuah perusahaan kreatif, nama Hongjoong dan Karina selalu menjadi topik hangat di kalangan karyawan. Dua sosok ini berada di posisi yang sama, yakni leader—Hongjoong memimpin divisi kreatif, sementara Karina memimpin divisi project.Namun, bukan hanya sekadar bekerja; keduanya seperti magnet yang menyatu. Setiap kali ada rapat lintas divisi, pasangan leader itu selalu sinkron. Hongjoong dan Karina seolah berbicara dalam bahasa yang sama meski menggunakan kata-kata yang berbeda. Kalimat mereka saling melengkapi, ekspresi mereka seolah memiliki kode tersembunyi, bahkan gestur kecil seperti senyum tipis atau lirikan singkat—sudah cukup membuat semua orang tak bisa menahan diri untuk berkomentar tentang kecocokan mereka.Mingi, sambil menyeruput kopi, melontarkan pendapatnya dengan nada mendalam, "Hmm... dilihat-lihat, mereka cocok juga kalau jadian."Wooyoung langsung menyahut dengan mata berbinar, seperti sedang menyaksikan drama romantis, "Agree! Mereka berdua bisa jadi couple leader pertama di kantor kita!"Giselle yang selalu penuh semangat langsung melompat ke obrolan itu, "Hongrina! Seriusan, gue suka banget sama ship ini!" Bahkan ia bercanda ingin membuat fanpage untuk keduanya.Tawa penuh kesenangan mengiringi percakapan itu. Tapi ada satu orang yang hanya diam, duduk sedikit menjauh sambil menunduk menatap layar laptopnya.Choi San.***Suasana rapat gabungan divisi siang itu begitu intens; bunyi keyboard beradu seperti hujan deras, dipenuhi tumpukan deadline, kopi dingin, dan candaan kecil yang menjadi bumbu di tengah stres.Karina duduk tegap di meja pimpinan tim dengan rambut hitam panjang yang tergerai rapi. Fokusnya tertuju pada layar laptop sambil mendengarkan pemaparan Hongjoong, yang berdiri tepat di sebelahnya dengan gaya penuh percaya diri. Hongjoong menjelaskan ide konsep baru untuk proyek gabungan dua divisi dengan antusiasme."Kalau kita integrasikan ide ini dalam campaign digital, aku yakin impact-nya akan dua kali lebih besar," ucap Hongjoong sambil menggerakkan tangan untuk memperjelas poinnya.Karina merespons dengan senyum kecil, lalu menambahkan, "Aku bisa masukkan sudut pandang customer behavior dari data survei minggu lalu, jadi campaign ini bisa lebih relevan dari segi kebutuhan klien."Kedua pemimpin ini seolah menjadi dua kepingan puzzle yang tak hanya cocok, tetapi juga melengkapi satu sama lain hingga sempurna.Kekaguman pada kolaborasi mereka tak hanya datang dari karyawan biasa, tetapi juga dari direktur yang ikut memberi pujian. "Kalian berdua adalah kombinasi pemimpin yang luar biasa. Pertahankan kerjasama ini."Tepukan tangan dan sorakan pujian langsung memenuhi ruangan. Sementara itu, San hanya menunduk lebih dalam, mencoba fokus pada catatan yang sebenarnya tak ia pahami sepenuhnya. Suasana itu terlalu bising untuknya—tepuk tangan bergema seperti dengungan di telinganya. Lihat? Bahkan atasan pun mengakuinya. Mereka memang pantas bersama...Dari meja belakang, Giselle menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu setengah berteriak sambil berbisik kepada Wooyoung dan Mingi. "Fix deh, kalau ada penghargaan Couple of the Year di kantor ini, pemenangnya pasti mereka berdua!"Mingi mengangguk dengan antusias. "Jelaslah, liat aja tuh! Mereka serasi banget! Hongjoong dengan gaya seriusnya, Karina dengan senyum manisnya. Duh, gue sampai merinding ngeliatnya."Wooyoung menimpali dengan suara lantang, "Udah deh, kalian berdua kapan nikahnya nih?"Ruangan langsung riuh oleh tawa. Karina hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pelan-pelan memerah. Sementara Hongjoong, dengan sikap santainya, hanya mengangkat alis sembari menyunggingkan senyum tipis.Dan San tetap diam membisu. Ia memandang layar monitornya, meski tak ada satu pun kata yang bisa ia ketik. Ada rasa sesak yang menyelimuti dadanya.San tahu sejak awal, bahwa menyukai Karina diam-diam adalah sebuah kebodohan. Namun, perasaannya tak pernah bisa berhenti begitu saja. Setiap kali Karina tersenyum hangat padanya, atau suara lembut wanita itu saat menyebut namanya; semua itu selalu berhasil membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.Namun, di mata semua orang di kantor, hanya ada "Hongrina." Dan semakin lama, San mulai sadar... mungkin mereka benar. Hongjoong dan Karina memang terlihat sempurna bersama.***Setelah rapat selesai, seperti biasa gosip kembali berlanjut di pantry. Giselle, Mingi, dan Wooyoung duduk melingkar di meja kecil, sementara San berdiri membuat kopi di dekat mereka."San, menurut lo nih ya, Karina lebih cocok sama Hongjoong atau... ya, sama siapa gitu?" tanya Giselle tiba-tiba, nada suaranya penuh jebakan.San nyaris menjatuhkan sendok kopi dari genggamannya. "Hm? Ya... kalau dari sisi kerjaan, jelas sama Hongjoong. Chemistry mereka kuat.""Ya kan! Gue udah bilang dari awal!" Wooyoung berseru kecil. "Fix lah, gue nge-ship pasangan ini dengan penuh restu!"San memaksakan senyum di wajahnya, meski dadanya terasa kian diremas kuat. Dia tahu jika ia berkata jujur bahwa Karina mungkin juga cocok dengannya, pasti mereka akan menertawakannya.Mingi bangkit dari kursinya, melakukan stretching dengan semangat. "Kalau mereka nikah, anaknya pasti genius dan super fashionable!""Pokoknya kalau Hongjoong sama Karina benar-benar nikah, gue nggak mau tau sih, gue wajib jadi bridesmaid-nya!" Giselle menimpali tak kalah semangat."Tunggu dulu! Kalau gitu, gue jadi MC resepsinya!" seru Wooyoung sambil terkekeh.Mingi melirik San yang sedang berusaha tampak santai di tengah obrolan tersebut. "Lo gimana, bro? Ada rencana buat 'Hongrina wedding dream' ini?"San kembali menjawab dengan senyum yang sekali lagi gagal menyembunyikan perasaannya. "Kalau mereka beneran nikah, ya? Gue... bakal jadi orang pertama yang paling seneng! Karena bisa makan enak! Biar gue yang urusin catering wedding-nya nanti!"Suasana pun kembali pecah oleh canda dan tawa mereka yang sibuk membahas kesempurnaan pasangan "Hongrina", sementara San berdiri sendiri, menyeruput kopi pahitnya tanpa berkata apa-apa lagi.Di balik pintu pantry yang sedikit terbuka—ada Karina.Ia awalnya hanya berniat mengambil air mineral sebelum kembali ke meja kerjanya. Namun, langkahnya terhenti seketika saat suara yang familiar menyebut namanya.Rasa ingin tahu membuatnya mematung, telinganya menangkap setiap kata. Semakin lama ia mendengarkan, hatinya mendadak terasa perih."Kalau mereka beneran nikah, ya? Gue... bakal jadi orang pertama yang paling seneng!" Suara San bergema jelas di antara tawa keras yang menyusul.Jantung Karina seperti jatuh ke dasar perut. Dari semua kata yang dilontarkan, entah mengapa ucapan itu—dukungan San—yang paling menusuk.Ia berharap setidaknya San akan... entah, mungkin bersikap netral? Atau tersenyum tipis tanpa komentar? Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. San, sama seperti yang lainnya... ikut merestui.Karina menggigit bibir, mencoba meredam gelombang kecewa yang tiba-tiba menumpuk di dadanya. Buru-buru ia berbalik, melangkah cepat, segera menjauh sebelum ada yang melihat wajahnya.Di mejanya, Karina menunduk. Layar laptop di depannya terlihat buram oleh air mata yang ia tahan mati-matian. Tangannya mengepal di atas meja. "Bodoh..." katanya dalam suara nyaris tak terdengar. "Kenapa aku berharap pada dia juga...?"Karina tahu betul tentang rumor kantor yang ramai memperbincangkan dirinya dengan Hongjoong, leader divisi kreatif yang sering digadang-gadang menjadi pasangan idealnya oleh para kolega.Ia mengerti sepenuhnya alasan di balik itu semua. Hongjoong memang sosok yang memikat—karismanya selalu terpancar di setiap rapat, ide-idenya brilian, dan cara ia memimpin mampu membuat siapa pun merasa percaya diri dan nyaman berada di sisinya.Hongjoong mempunyai wibawa yang sulit ditandingi, ditambah lagi sikapnya yang tulus mendengarkan setiap masukan. Bahkan Karina sendiri mengagumi dedikasi dan profesionalisme pria itu; ia benar-benar terlihat sempurna di mata banyak orang.Karina tahu kalau rekan-rekan kerjanya terus menunggu dan berspekulasi kapan hubungan mereka akan menjadi nyata? Tapi jauh di lubuk hati terdalam, ia sudah memendam harapan untuk orang lain...San. Pria itu selalu hadir dalam ketenangan yang diam-diam menyentuh hatinya. Perhatian kecil seperti membawakan dokumen yang tertinggal di meja, menyodorkan payung saat hujan, atau sekadar bertanya apakah ia sudah makan dengan nada ringan yang terdengar tidak istimewa bagi orang lain.Namun sekarang jelas bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Alih-alih menunjukkan keberanian untuk berkata sesuatu, San justru tertawa bersama mereka yang berusaha menjodohkannya dengan pria lain. Rasanya... sakit sekali.***Sore itu, saat semua orang sudah bergegas pulang, Karina memilih tetap berada di ruangannya. Keheningan menyelimuti kantor, hingga suara langkah terdengar di lorong. San, pria itu kebetulan lewat, hendak menuju lift."San." Panggilan lembut itu membuatnya berhenti. Ia menoleh dan terkejut mendapati Karina masih sibuk di balik layar laptopnya yang menyala."Oh, kamu masih kerja?" San bertanya santai, berusaha menjaga nada percakapan agar tetap biasa.Karina menatapnya lama dengan senyum yang tak sepenuhnya menghangatkan suasana. "Masih. Ada laporan yang harus dirampungkan."San mengangguk kecil dan bersiap melangkah lagi, tetapi suara Karina kembali menghentikannya, kali ini terdengar lebih berat. "San... kamu udah dengar soal 'Hongrina'? Yang beberapa hari ini ramai menjadi obrolan di kantor? Katanya kami cocok. Tapi menurutmu gimana?"Pertanyaan itu seperti pisau yang langsung menusuk ke hatinya. San membalas tatapan Karina yang sebelumnya begitu ia sukai, namun kini justru membuatnya sulit untuk berbicara.Apa ia harus mengungkapkan yang sebenarnya kepada Karina? Bahwa ia tak pernah senang membayangkan wanita itu bersama dengan pria lain? Bahwa hatinya yang egois, berharap Karina hanya akan memilihnya?Namun semua keberanian itu sirna. Bayangan suara dukungan dari rekan-rekan kantor terhadap "Hongrina" terus menghantui benaknya. Hingga akhirnya hanya seulas senyum tipis yang bisa ia berikan. "Ya... kalian memang terlihat cocok. Menurutku, kamu pantas bersama orang yang terbaik. Dan Hongjoong... dia itu sempurna."Karina tersenyum kecil meski hatinya terasa goyah. Ia mengangguk perlahan. "Begitu, ya..." jawabnya sederhana, meski tangannya meremas sisi meja seolah mencoba mencari pegangan.Tidak lama kemudian, ponsel Karina bergetar. Nama "Hongjoong" muncul jelas di layar. Ia cepat-cepat menjawab dengan suara lembut yang penuh kehangatan. "Halo, Hongjoong... iya, aku baru mau pulang."Seketika, cahaya kecil di hati San padam. Pandangannya tertuju ke lantai. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, saat ia menyadari sesuatu yang selama ini enggan diakuinya. Mungkin inilah bukti nyata untuk dirinya sendiri: tidak ada ruang untuknya dalam hati Karina. Ia bukanlah pilihan.Lihat, San. Dia bahkan menunggunya pulang. Kau cuma orang yang kebetulan aja lewat dan ada di sini.Dengan langkah berat, San akhirnya berbalik meninggalkan Karina. Ia melangkah menuju lift sambil membawa perasaannya yang begitu hancur, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk benar-benar mengubur segalanya.***Minggu-minggu berikutnya, suasana kantor begitu heboh dengan proyek besar yang mereka kerjakan bersama. Karina dan Hongjoong semakin sering terlihat saling berdiskusi intens, berbagi ide saat brainstorming, dan bahkan pulang larut malam bersama demi menyelesaikan laporan penting."Serius deh, kalau mereka nggak sampai jadian, itu rugi banget sih," celetuk Giselle suatu malam ketika mereka semua masih lembur.San, yang kebetulan duduk di sebelah Giselle, hanya memberikan senyum singkat yang terpaksa. Namun jauh di dalam dirinya, ia bisa merasakan setiap retakan kecil yang perlahan mencabik hatinya.Berulang kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanya fase. Mungkin Karina tidak melihat Hongjoong dengan cara yang sama. Tetapi semakin hari berlalu, semakin sulit ia menipu perasaannya sendiri.***Keesokan harinya di kantor, perubahan sikap San semakin kentara. Ia mulai menarik diri dari percakapan, bahkan menghindari interaksi dengan Karina sebisa mungkin. Saat rapat mingguan berlangsung dan Karina mempresentasikan hasil kerjanya, San hanya fokus menulis catatan tanpa sekalipun mengangkat kepala.Karina menggigit bibir dalam diam, merasa ada sesuatu yang salah. Apakah ia sudah melakukan sesuatu yang membuat San menjauh?Keraguan itu terus membayangi pikirannya sepanjang hari. Merasa tak tahan, usai rapat ia memberanikan diri menghampiri San di meja kerjanya. "San, aku mau bicara sebentar. Ada waktu?"San memperbaiki posisi tubuhnya tapi tetap menghindari tatapan mata Karina. "Maaf... aku lagi sibuk," jawabnya singkat dan datar.Jawaban dingin itu mengejutkan Karina. Tak pernah sebelumnya San bersikap sedingin itu padanya. Seketika ia merasa ada jarak baru yang mulai terbentuk di antara mereka.Di siang yang sama panasnya dengan suasana hatinya, Karina menuang kopi di pantry saat San tiba-tiba masuk. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini saatnya, pikir Karina. Ia harus berbicara. "San," panggilnya pelan.San hanya melirik sekilas dan mengangguk singkat. Langkahnya sudah mengarah ke pintu lagi."Eh, tunggu!" ucap Karina sedikit panik, lalu spontan berkata, "Kamu sibuk sore ini? Aku mau diskusi soal laporan—"Namun, sebelum kata-katanya selesai, Wooyoung menyelutuk dari pintu pantry dengan santainya, seolah datang tepat di saat yang paling buruk. "Eh, Karina! Hongjoong lagi nyariin lo barusan. Katanya, mau bahas proposal."Karina menoleh dengan kekesalan yang jelas. "Nggak sekarang, Woo—"Sayangnya, San sudah lebih dulu pergi. Wajahnya terlihat dingin, sulit ditebak. Sisa harapan yang tadi nyaris tumbuh perlahan memudar.Karina mengepalkan tangan, marah pada dirinya sendiri sekaligus bingung dengan tingkah pria itu. San, kamu kenapa sih?***Hari-hari berlalu, namun keadaan justru semakin rumit. Bukan perhatian serius yang Karina dapatkan dari rekan-rekannya, melainkan gosip yang melebar tanpa kendali.Topik soal "Hongrina" telah menjadi obrolan populer di kantor, sampai-sampai Giselle dan Wooyoung membuat poster berisikan foto-foto Hongrina yang mereka ambil ketika pasangan pemimpin itu sibuk mengerjakan proyek besar bersama beberapa minggu lalu dan menempelkannya di papan pengumuman.Semua orang yang melihat tertawa, termasuk Karina—meski ada perasaan kecewa saat ia menangkap senyum tipis di wajah San yang berdiri di belakang mereka, tampak seperti ikut mendukung juga. Dan bagi Karina, senyum pria itu yang terlalu menyakitkan untuk dilihat.Namun kenyataannya, San memang tersenyum—tapi matanya tak bisa berbohong. Ada luka yang ia sembunyikan rapat-rapat.Dari sudut ruangan, Seonghwa memperhatikan semuanya dengan mata tajamnya. Ia duduk tenang sambil mengetuk-ngetuk meja laptopnya, seolah menyusun strategi dalam kepala. Matanya bergantian menatap Karina, lalu San. Menangkap detail-detail yang mungkin luput dari mata orang lain. Bagaimana Karina tertawa tapi matanya tidak berbinar. Lalu, San yang tersenyum tapi sorotnya seakan penuh luka.Ia tahu lebih banyak daripada yang mereka kira. Dari cara Karina yang sering melirik San diam-diam saat pria itu lewat. Dan juga cara San yang selalu menghindar jika topik "Hongrina" muncul—semuanya terlalu jelas bagi orang sepeka dirinya—kepingan demi kepingan puzzle itu kini terangkai dengan gamblang di benaknya.Seonghwa berdecak kecil sambil menyeruput kopinya. "Dua orang ini..." gumamnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri, "sama-sama bodoh."Dan di saat itulah sebuah ide terpikirkan olehnya—ide nakal yang perlahan-lahan tumbuh menjadi rencana matang di kepalanya. Seonghwa tidak bisa menjadi penonton lagi; ia tahu, entah bagaimana caranya, ia harus turun tangan untuk memperbaiki kebodohan dua orang ini sebelum semuanya terlambat.***Menjelang sore itu, Seonghwa dengan sengaja meminta Karina mengambil beberapa stok kopi di gudang kecil di belakang pantry. Beberapa saat kemudian, ia memanggil San dengan alasan yang sama. Begitu keduanya masuk, tanpa banyak basa-basi, Seonghwa mengunci pintu gudang rapat-rapat dari luar."Hei?! Seonghwa??" San langsung berseru panik.

Karina menoleh, memperhatikan sekeliling dengan gugup. Pandangannya jatuh ke pintu yang kini terkunci, lalu beralih ke San yang tampak bingung.Gudang kecil itu sempit, hanya dipenuhi rak-rak tempat menyimpan kotak kopi, gula, dan beberapa snack. Cahaya lampu remang membuat ruangan terasa semakin pengap.San menelan ludah pelan saat menyadari jaraknya dengan Karina tak lagi bisa disebut aman. Ia bahkan bisa mencium samar aroma parfum manis dari rambut panjang Karina. Rambutnya yang hitam tergerai sedikit berantakan di pundak, namun itu hanya membuatnya terlihat semakin memikat.Karina sendiri berusaha menenangkan diri, meski jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada biasanya. Ruangan sempit ini membuatnya sangat sadar akan keberadaan San yang begitu dekat—hanya beberapa inci darinya, cukup untuk membuat napasnya tercekat."Seonghwa pasti bercanda..." San berusaha meyakinkan dirinya sendiri melalui bisikan, meski nyatanya hal tersebut tak segera meredakan rasa gugup dalam dirinya. Setiap kali ia melirik Karina, cahaya lampu redup justru membuat wajah wanita itu terlihat lebih memesona sekaligus menyiksa hatinya.Keheningan merayap terlalu lama, hingga akhirnya Karina memecahkannya dengan suara seraknya. "San... kamu beneran senang kalau aku sama Hongjoong?" tanyanya lirih.San mematung sejenak. Pertanyaan itu lagi—pertanyaan yang dulu hanya bisa ia jawab dengan senyum pahit, namun kini kembali muncul tepat di depan situasi yang tidak memberinya celah untuk menghindar.Karina menundukkan kepala sementara sinar matanya perlahan berkilat, menahan sesuatu. "Waktu itu di pantry... aku dengar kamu bilang kalau kamu bakal jadi orang pertama yang senang kalau aku nikah sama dia..."Rasa sesak langsung menyergap dada San. Ia ingin menyangkal, tapi bibirnya terasa sangat berat untuk bergerak.Karina tersenyum tipis, senyum yang nyaris hancur. "Padahal... aku berharap kamu diam aja waktu itu. Setidaknya aku masih bisa tetap percaya kalau perasaanku nggak sepihak."Dan di saat itu juga San merasa dunianya berhenti; tubuhnya membeku karena ucapan wanita itu. "Perasaanmu...?" tanyanya kemudian dengan suara hampir tak terdengar.Karina menatapnya dengan mata berkaca, mencoba berbicara meski suaranya gemetar. "Iya... Aku suka kamu, San."Keheningan berikutnya jauh lebih menyiksa daripada sebelumnya. Detik itu juga, dunia San seolah jungkir balik bersama seluruh perasaannya yang selama ini ia pendam."Aku cuma ingin kamu–" Suara Karina terputus mendadak, karena San tiba-tiba menarik tubuhnya mendekat dan menghantam bibirnya dengan ciuman dalam yang begitu nekat—begitu haus.Karina sempat terkejut sejenak sebelum nalurinya mengambil alih. Ia membalas ciuman itu tanpa ragu, jemarinya erat mencengkeram kerah kemeja San, menariknya semakin dekat hingga tubuh mereka nyaris tak berjarak lagi. Ruangan sempit yang tadi terasa dingin berubah menjadi panas seketika."Karina..." San berbisik di antara napas mereka yang tersengal-sengal. Suaranya pecah saat ia melanjutkan, "Aku nggak bisa lagi berpura-pura... Aku benci harus ikut tertawa, padahal hatiku sakit setiap kali semua orang membahas topik itu."Rak tempat menyimpan kotak kopi bahkan bergeser sedikit saat punggung Karina terdorong ke arahnya. Langkah keduanya terasa terburu-buru, bercampur berbagai emosi—amarah yang tertahan sekaligus rindu yang akhirnya meledak.Sementara itu di luar pintu, Seonghwa bersandar sembari tersenyum puas mendengar kegaduhan kecil dari dalam. "Akhirnya... mereka berhenti bodoh," batinnya.***San mencoba menenangkan napasnya yang memburu. Jemarinya gemetar saat menggenggam pinggang Karina, mendekapnya lebih erat. Kacamata yang ia pakai sedikit melorot, membuatnya terlihat semakin berbahaya.Karina menatapnya lekat, pupil matanya membesar sementara dadanya naik-turun. "San..." ucapnya lirih dengan suara serak, hampir seperti rintihan.San tidak menjawab. Ia menunduk lebih dalam, bibirnya tanpa ragu bergerak ke arah leher Karina. Gigitan kecil disusul ciuman penuh gairah berhasil memancing desahan lembut dari Karina. Tangannya refleks meremas kemeja putih milik San hingga kusut. Aroma kopi pekat yang menguar bercampur dengan panas tubuh mereka membuat ruang sempit itu seakan mendidih.Karina meluncurkan jemarinya dengan perlahan menyentuh dada San di balik kemeja itu, merasakan detak jantung yang berdebar tak terkendali. Lalu, jemarinya naik ke kerah kemeja, membuka dua kancing teratas dengan paksa, memperlihatkan kulit kecokelatan yang langsung diserang oleh bibirnya.San mengeluarkan erangan tertahan, tangannya mencengkeram belakang kepala Karina agar tak menjauh. Sementara itu, tangan lainnya mulai turun ke arah pinggulnya, menekan tubuh Karina hingga bersandar pada rak penuh stok gula. Kotak-kotak bergeser, sebagian hampir jatuh, namun mereka tidak peduli."Aku juga suka sama kamu, Karina. Dari dulu..." bisik San dengan suara serak di telinga Karina, napasnya terasa hangat.Karina memejamkan mata erat. Tubuhnya bergetar—antara rasa senang sekaligus frustasi. "Kenapa baru bilang sekarang, Bodoh..." gerutunya hampir tanpa suara. Ia meraih dasi hitam San yang terikat longgar, menariknya dengan keras hingga hampir membuat kacamatanya jatuh.San hanya tersenyum tipis di antara nafas yang tak beraturan dan desahannya, lalu melepas kacamata itu, menaruhnya begitu saja di rak sebelum kembali menyambar bibir Karina dengan ciuman yang semakin dalam.Tangannya turun, menyusuri paha Karina, mengangkat sedikit roknya. Karina tersentak kecil, refleks menutup mulut dengan satu tangan agar desahannya tak terdengar jelas. Namun San segera menyingkirkan tangannya, menempelkan bibir ke telinganya dan berbisik, "Jangan tahan... aku ingin dengar semuanya."Karina hanya bisa bertumpu pada tubuh San yang terus menekan padanya dengan kuat. Wajahnya sudah memerah, bibirnya tampak membengkak karena terlalu banyak dicium. Jemarinya kini masuk ke dalam kemeja San, menyusuri permukaan kulit perutnya yang terasa tegang saat disentuh.San meremas pinggul wanita itu dengan spontan, mengeluarkan desahan berat di sela napas. Rasa bersalah, lega, dan gairah bercampur menjadi satu. "Ka... Karina... kalau kita terusin—" suara San terdengar parau terpotong ketika Karina menggigit lembut telinganya. "Aku nggak mau berhenti," bisik Karina.San menatap intens Karina yang kini terperangkap sempurna di antara tubuhnya dan rak gudang. Napasnya berat, kacamata sudah tak lagi menghalangi wajahnya yang penuh pesona maskulin di bawah cahaya redup lampu gudang itu. Dasi hitam masih menggantung longgar di lehernya, sementara kemeja putihnya yang sedikit terbuka memperlihatkan dada serta otot perutnya yang mengencang setiap kali ia bernapas.Dengan gerakan perlahan, San menarik dasinya keluar, melilitkannya sebentar di tangannya, lalu mengarahkan tatapan tajam yang langsung mengunci mata Karina. Pandangannya yang intens, membuat tubuh wanita itu bergetar tanpa sadar. "Last chance... Kalau kita teruskan sekarang, aku nggak akan bisa berhenti..." suaranya rendah dan serak, nyaris seperti geraman.Karina mengigit bibirnya, matanya berkaca-kaca—terperangkap antara nafsu dan ketakutan manis. Meski ia ingin menolak, tubuhnya justru berkata lain. Punggungnya menempel rapat pada rak, kakinya gemetar menantikan apa yang akan dilakukan pria itu. "Aku mau kamu, San..." Suaranya terdengar hampir putus asa, nyaris memohon.San melepaskan jas hitamnya, meletakkannya sembarang di atas tumpukan kardus kopi. Gerakannya tenang, tapi sorot matanya liar. Jemarinya mulai bekerja membuka sisa kancing kemeja putihnya satu per satu dengan pelan—jelas sengaja, seolah menyiksa Karina yang tak mampu memalingkan pandangannya.Ketika akhirnya dada bidangnya terpapar sepenuhnya, dengan garis otot yang terlihat tegas hingga turun ke perut yang terlatih sempurna, Karina tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menyentuh kulitnya yang hangat di bawah ujung jemarinya.San menarik napas panjang saat merasakan sentuhan itu. Ia menunduk sedikit, menangkap tangan Karina dengan lembut sebelum mengecupnya singkat. Tanpa ragu, ia meletakkan tangan wanita itu tepat di dadanya sendiri. "Rasakan... seberapa cepat aku berdetak karena kamu."Karina nyaris pingsan karena hawa panas yang menyebar ke seluruh tubuhnya.Tanpa membuang waktu, San merapatkan tubuhnya lebih dekat. Jari-jarinya mulai menjelajahi kulit paha Karina yang masih bergetar hebat, mengangkat sedikit roknya dan membiarkan jemarinya menyentuh bagian sensitif yang membuat wanita itu tersentak kecil. Desahan keluar begitu saja dari mulut Karina sementara kepalanya terhempas ringan ke rak di belakangnya.Klik! Suara kunci pintu diputar terdengar nyaring dan jelas. Pintu perlahan terbuka."Ehem."Seonghwa berdiri di ambang pintu, kedua tangannya bersedekap dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memergoki dua rekan kerjanya hampir melakukan hal yang tak seharusnya di gudang pantry kantor. "Aku sengaja kunci kalian tadi supaya bisa bicara... Tapi ternyata—lebih dari sekadar bicara, ya?"Karina langsung melompat panik sambil mendorong San, wajahnya berubah merah padam. "S-Seonghwa!!"San buru-buru meraih kacamata yang tadi tergeletak sembarangan di rak, lalu mengancing kemejanya dengan gerakan cepat, meski masih tampak terbuka separuh. "Ini... bukan—""Oh ya?" Seonghwa mengangkat satu alisnya tinggi. "Jadi menurutmu aku harus berpikir apa? Barusan, aku bahkan dengar... yah, cukup keras untuk bikin aku hampir balik lagi."Karina spontan menutupi wajahnya dengan tangan, seolah ingin menghilang dari gudang itu. San, yang biasanya tampak tenang, kali ini benar-benar salah tingkah. "Kau nggak lihat apa-apa."Seonghwa menyeringai, melangkah masuk sambil menyusun kembali kotak-kotak gula yang tadi hampir jatuh. "Oh, aku lihat semuanya. Terlalu jelas malah. Sampai aku sempat berpikir... wah, gudang pantry ternyata multifungsi juga, ya?""SEONGHWA!" Karina nyaris berteriak, suara melengking karena malu.Seonghwa tertawa kecil, cukup puas melihat ekspresi mereka. "Tenang. Aku nggak akan cerita ke yang lain..." Ia lalu melirik dengan tatapan penuh arti sebelum menambahkan, "Rahasia kalian aman sama aku... asal kalian nggak keberatan kalau nanti aku butuh traktiran kopi dan makanan di luar kantor."San hanya bisa menghela napas panjang, berusaha meredam campuran emosi, malu dan kesal. "Kenapa kau harus muncul sekarang?""Justru karena waktunya sempurna," jawab Seonghwa santai seraya berbalik. Dengan langkah ringan ke arah pintu, ia malah bersiul pelan. Namun sebelum menutup pintu, ia sempat melirik sekali lagi. "Oh, dan San..." Bibirnya membentuk sebuah seringai jahil. "Rapikan dasimu. Kau kelihatan terlalu... mencurigakan."Klik. Pintu akhirnya tertutup. Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu kembali, hanya ada San dan Karina yang berdiri terpaku saling menatap dengan wajah sama-sama memerah.Karina akhirnya mengeluarkan tawa kecil di sela rasa malunya. "Astaga... ketahuan seperti ini rasanya jauh lebih memalukan dari yang kubayangkan."San mengusap wajahnya penuh frustrasi sebelum mendekap Karina erat, seperti mencoba memberinya sedikit rasa aman. "Aku janji... lain kali kita cari tempat yang lebih aman."Karina mengangkat pandangannya, senyum kecil terukir di wajahnya. "Lain kali?"Baru sadar akan ucapannya sendiri, San sontak terdiam. Wajahnya semakin memerah. "...Aku ketahuan bodoh lagi, ya?"Karina tertawa lepas, sebelum menarik dasi San untuk mencium bibirnya sekali lagi—lembut dan manis—tapi tetap membuat jantung mereka berdua berdebar dengan cepat.